Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Desember 2012
AKSI: masihkah dalam jalurnya?
kami berjuang demi rakyat
Teriakan itu masih teringat di otak saya. Saat itu, saya terjebak di depan kendaraan yang 'diparkir' oleh segelintir mahasiswa. Hari itu hujan deras, depan saya ada perempuan dengan setelan anak kuliahan - sama seperti saya - yang berusaha mencari celah. Ketika mendapat celah, bukannya lolos ke jalan depannya, justru seorang lelaki yang memakai PDH dengan gagahnya memarkirkan kendaraan lain di celah tersebut sehingga jalan semakin 'buntu'. Namun saya justru mendapatkan celah dan meneruskan jalan saya tanpa dihalangi. Saya pikir hanya dia dan beberapa orang yang dapat dihitung jari - berdiri dan berteriak 'atas nama rakyat' di atas truk - yang ikut dalam aksi tersebut. Ternyata masih banyak teman-teman aktivis yang ikut dalam aksi itu, dan tahukah dimana mereka berdiri? Di bawah tenda di tengah jalan yang saya yakini juga 'dipinjam' karena tenda tersebut merupakan tenda salah satu produk trademark di Indonesia.
Esok harinya ketika saya hendak berkunjung ke tempat pembuangan akhir sampah di kota saya untuk membicarakan program Himpunan saya, kami (saya dan ketua umum) kembali tersendat karena aksi. Kembali sebuah truk dan beberapa motor terparkir yang melumpuhkan transportasi. Mereka mungkin tidak tahu bahwa program yang ingin kami bincangkan di lokasi tujuan kami adalah program peduli masyarakat. Entahlah.
Demi rakyat? Saya bahkan melihat dosen saya yang hendak mengajar terhambat mobilnya, buntu. Dosen mengajar sama halnya seperti guru yang membagi ilmunya dan orang tua yang mendidik kita, sebandingkah ilmu yang akan dituangkannya kepada mahasiswa haus ilmu dengan teriakan kita? Demi rakyat? Bahkan saya sendiri setelah berdiskusi dengan ketua saya tertawa ketika mendengar objective aksi tersebut adalah melumpuhkan transportasi. Apakah melumpuhkan transportasi bisa dikatakan sebagai aksi demi rakyat? Bahkan simpati mereka saja berubah menjadi antipati.
Saya sendiri adalah wakil ketua di himpunan jurusan saya, saya bahkan tidak banyak memberi kontribusi. Saya bahkan tidak pantas memberikan judgement subjektif saya. Tapi saya meyakini satu hal, tugas social control mahasiswa akan menjadi paradoks dengan aksi hiperaktif kita.
Bukannya kita telah mengerti arti GLOBAL WARMING? Saya tidak tahu, berapa persenkah keikutsertaan asap hitam mengepul dari ban karet terbakar di aspal jalan terhadap global warming. Wallahu alam.
Sebagai aktivis, kita seharusnya peka terhadap keadaan di sekitar. Begitu banyak pengemis karena kotornya perilaku segelintir orang yang menyelundupkan dana demi perut buncitnya. Tapi bukankah metamorfosis sempurna juga dinamakan perubahan? Memulai dari telur yang kecil, ulat yang menggeliat, kepompong yang merenung, hingga kupu-kupu yang indah?
Begitu banyak pengemis, tapi berapa aktivis yang memutar arah kendaraannya ketika sadar bahwa mereka melewati orang yang haknya mereka perjuangkan namun memberi sepeser uang saja mereka lupa? Dan berapa banyak pengguna jalan yang tidak berteriak di jalan tapi tetap memberikan sebagian uangnya sembari tersenyum kepada pengemis yang berterima kasih kepadanya dan mendoakan keberhasilannya?
Saya kagum akan mahasiswa Indonesia yang dulu berhasil menggulingkan pemerintahan demi rakyat, sebuah perang antara Daud dan Jalut, sebuah perang melawan tirani. Sekarang, mampukah kita melawan diri sendiri?
Rabu, 18 Mei 2011
Learning How to Learn
Kadang ada waktu ketika kita merasa tidak mampu melakukan apa-apa. Waktu yang berharga itu kita habiskan dengan kosong. Masih untung jika dipakai untuk memikirkan langkah kita ke depan, tapi jika dipakai mengkhayal belaka?
Learning how to learn adalah kata-kata yang paling sering terdengar dalam mata kuliah "teaching and learning strategy" yang diajarkan oleh dosen paling tua yang pernah saya lihat. Tapi kata-kata itu benar-benar dalam maknanya. Adakah dari kita yang memikirkan cara belajar untuk belajar? Kita sibuk belajar a+b=c dan terus bergulat dengan tugas kita, klasik. Tapi yang berpikir bagaimana kita membuat diri kita nyaman dengan belajar sangat sedikit. Saya bahkan harus kehilangan beberapa kg berat badan untuk serius, dan ketika mencoba untuk nyaman, saya justru kehilangan nilai saya.
Saya iri dengan kekuatan tekad dosen saya. Beliau bahkan mendengar pun sulit baginya, jalannya tertatih, kacamatanya tebal, tapi otaknya seperti tidak mau kalah akan waktu. Sedangkan saya apa? Lapar saja sudah membuat otak melanglang buama ke dunia khayal.
The point is learn how to learn, itu yang tidak bisa saya capai selama ini.
Wise people learn when they can, fool people learn when they must.
Learning how to learn adalah kata-kata yang paling sering terdengar dalam mata kuliah "teaching and learning strategy" yang diajarkan oleh dosen paling tua yang pernah saya lihat. Tapi kata-kata itu benar-benar dalam maknanya. Adakah dari kita yang memikirkan cara belajar untuk belajar? Kita sibuk belajar a+b=c dan terus bergulat dengan tugas kita, klasik. Tapi yang berpikir bagaimana kita membuat diri kita nyaman dengan belajar sangat sedikit. Saya bahkan harus kehilangan beberapa kg berat badan untuk serius, dan ketika mencoba untuk nyaman, saya justru kehilangan nilai saya.
Saya iri dengan kekuatan tekad dosen saya. Beliau bahkan mendengar pun sulit baginya, jalannya tertatih, kacamatanya tebal, tapi otaknya seperti tidak mau kalah akan waktu. Sedangkan saya apa? Lapar saja sudah membuat otak melanglang buama ke dunia khayal.
The point is learn how to learn, itu yang tidak bisa saya capai selama ini.
Wise people learn when they can, fool people learn when they must.
Kamis, 10 Maret 2011
Kecocokan Elemen Sulappa' Appa'
Tiap elemen memiliki kecocokan dengan elemen lainnya, sehingga hal ini digunakan dalam pernikahan untuk mengetahui apakah kedua mempelai nantinya akan cocok atau tidak. Berikut daftarnya:
1. TANAH
Cocok: TANAH, AIR, dan API
Tidak Sesuai dengan ANGIN.
Elemen air adalah yang paling sesuai dengan elemen tanah ini, hal ini dikarenakan air adalah elemen yang mampu menyuburkan tanah sehingga keduanya saling menguntungkan.
2. AIR
Cocok: TANAH, AIR, ANGIN
Tidak sesuai dengan API.
Elemen air sangat sesuai dengan tanah (menyuburkan), sesama elemen air, dan angin. Jika bersama dengan elemen air, maka keduanya akan saling mengaliri dan searah. Jika bersama dengan elemen angin maka keduanya akan menghasilkan embun yang menyejukkan. Namun air ini tidak akan sesuai dengan api, karena air akan memadamkan api tersebut.
3. API
Cocok: TANAH, API, ANGIN
Tidak sesuai dengan AIR
Elemen api ini sangat sesuai dengan elemen angin. Hal ini dikarenakan elemen angin akan memberi kekuatan bagi api untuk tetap menyala. Namun sebuah catatan bahwa elemen api juga sesuai dengan sesama elemen api tapi sangat berisiko. Mengapa? Karena sesama api akan saling menguatkan, tapi merusak sekitarnya.
4. ANGIN
Cocok: AIR dan API
Tidak sesuai dengan TANAH, dan ANGIN
Catatan yang penting untuk elemen angin adalah jangan bersama elemen angin lainnya. Hal ini hanya akan menyebabkan elemen tersebut silariang atau berhembus tanpa arah sehingga mengakibatkan hubungan keduanya mudah terpisah
n.b.
Tulisan ini hanyalah dokumentasi khazanah budaya Indonesia, bukan hal yang wajib untuk dipercaya.
Semoga kita mampu mencerna informasi sebelum mengamalkannya.
1. TANAH
Cocok: TANAH, AIR, dan API
Tidak Sesuai dengan ANGIN.
Elemen air adalah yang paling sesuai dengan elemen tanah ini, hal ini dikarenakan air adalah elemen yang mampu menyuburkan tanah sehingga keduanya saling menguntungkan.
2. AIR
Cocok: TANAH, AIR, ANGIN
Tidak sesuai dengan API.
Elemen air sangat sesuai dengan tanah (menyuburkan), sesama elemen air, dan angin. Jika bersama dengan elemen air, maka keduanya akan saling mengaliri dan searah. Jika bersama dengan elemen angin maka keduanya akan menghasilkan embun yang menyejukkan. Namun air ini tidak akan sesuai dengan api, karena air akan memadamkan api tersebut.
3. API
Cocok: TANAH, API, ANGIN
Tidak sesuai dengan AIR
Elemen api ini sangat sesuai dengan elemen angin. Hal ini dikarenakan elemen angin akan memberi kekuatan bagi api untuk tetap menyala. Namun sebuah catatan bahwa elemen api juga sesuai dengan sesama elemen api tapi sangat berisiko. Mengapa? Karena sesama api akan saling menguatkan, tapi merusak sekitarnya.
4. ANGIN
Cocok: AIR dan API
Tidak sesuai dengan TANAH, dan ANGIN
Catatan yang penting untuk elemen angin adalah jangan bersama elemen angin lainnya. Hal ini hanya akan menyebabkan elemen tersebut silariang atau berhembus tanpa arah sehingga mengakibatkan hubungan keduanya mudah terpisah
n.b.
Tulisan ini hanyalah dokumentasi khazanah budaya Indonesia, bukan hal yang wajib untuk dipercaya.
Semoga kita mampu mencerna informasi sebelum mengamalkannya.
Cloud, Close to My Eyes
This is my favorite picture! Cloud, close to my eyes.
Location: Tondong Tallasa, Pangkep regency, South Sulawesi, Indonesia.
Time: February 18, 2011
Camera: Nokia N70 (hehehe, amateur!)
F-stop: f/3.2
Exposure time: 1/200 sec.
Focal length: 4 mm
ISO speed: ISO-64
Selasa, 08 Maret 2011
Essay Peterpan (pengantar pendidikan)
Dewasa ini, kita selalu mendengar pendidikan menjadi perbincangan hangat yang tak pernah hentinya dibahas. Mereka yang membahasnya pun beragam, mulai dari para pejabat tinggi negara, guru-guru dan staf pengajar, mahasiswa dalam aksinya, hingga daeng tukang becak pun membicarakannya. Cara mereka mengkritisi pendidikan pun melalui banyak perspektif, pejabat koalisi misalnya, mereka menganggap bahwa pendidikan yang merupakan kewajiban telah didapatkan dan tinggal sedikit dipoles. Tapi berbeda dengan pejabat koalisi, para pejabat oposisi justru menganggap bahwa pendidikan yang bersifat obligat justru sulit ditemukan di negara ini. Bahkan daeng tukang becak pun tidak mau ketinggalan, mereka membicarakan pendidikan dalam bahasa mereka, di pangkalan mereka, bermodal pengetahuan yang mereka punya, sehingga pembahasan mereka mengenai pendidikan tak jauh seperti pembahasan para kritikus dan politikus yang pernah mengejar ilmu hingga luar negeri. Begitu hebatnya ruang lingkup pendidikan hingga tidak ada batasan dalam pembahasannya.
Pendidikan atau yang biasa oleh anak International Class Program sebut sebagai education merupakan bahasan dengan ruang lingkup yang besar. Mahasiswa UNM, Unhas, UIN, Unismuh, UIT, dan semua mahasiswa yang pernah melakukan aksi di jalanan sudah terlalu sering menyebut-nyebut pendidikan di mulutnya. Education for all yang selalu dijanjikan pemerintah menjadi boomerang bagi mereka. Education for all yang seharusnya dirasakan oleh seluruh warga Indonesia justru menjadi benda yang mahal di negeri ini. Sebuah perspektif oposisi atau perspektif mahasiswa aksi selalu menganggap bahwa pendidikan di negeri ini adalah pendidikan komersil yang mahalnya bukan main. Mulai dari BP3 tempo dulu, hingga SPP zaman ini selalu menjadi bahan aksi mahasiswa. Namun apakah ruang lingkup pendidikan yang sebegitu besarnya hanya diparameteri oleh sebuah harga? Pemikiran yang cukup dangkal ketika pejabat, mahasiswa, dan para staf pengajar menilai sebuah pendidikan dalam suatu harga. Atau peribahasa “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” sudah tidak berlaku lagi?
Anak yang merupakan tunas kehidupan negeri ini adalah satu dari sekian banyak yang harus dijamah oleh pendidikan, mulai dari yang formal hingga non-formal. Kemampuan tiap anak pun berbeda seperti biodiversity dalam pembahasan biologi. Namun korelasi antara pendidikan dan kemampuan tiap anak justru tidak kelihatan. Sebuah kewajiban pendidikan yang memanusiakan manusia semakin menjadi fatamorgana dalam konkritnya kehidupan. Anak yang haus akan ilmu yang seharusnya dididik hingga memperoleh pendidikan justru kehilangan arah. Anak yang tadinya haus ilmu menjadi anak yang alergi dan phobia terhadap ilmu. Entah siapa yang harus bertanggung jawab atas semua peliknya permasalahan ini.
Kemampuan tiap anak yang seharusnya dikembangkan justru tertidur dan tersalurkan dalam bentuk yang salah. Mungkin sudah menjadi makan siang kita, berita mengenai anak SMU yang melakukan praktikum reproduksi sebelum nikah. Atau para Chris John masa depan yang justru berantem karena soal sepele. Di sinilah seyogyanya pendidikan dipergunakan. Pendidikan adalah alat yang tidak hanya mengajarkan 1+1 kepada anak, namun juga merupakan alat pengembang kemampuan anak. Betapa sia-sianya ketika bakat alami anak justru menjadi senjata bunuh diri yang merusak diri dan bangsanya. Pendidikan bukanlah seperti lilin yang menghabisi dirinya karena cahayanya, namun seperti matahari yang tidak pernah padam demi bumi ini. Ketika anak memiliki kemampuan, maka pendidikanlah pengembangnya. Dengan berbagai cara dan formalitas, sebagai contoh mengenai anak SMU tadi. Mereka tahu melakukan kopulasi namun tidak mengerti ketika dijelaskan oleh gurunya. Bisa jadi karena cara penyampaian yang salah, atau memang ada hal yang kurang dari sistem pendidikan.
Kepribadian anak pun merupakan suatu hal yang memerlukan pendidikan. Contoh yang benar-benar nyata adalah para pejabat yang sekolahnya hingga ke luar negeri namun kepribadiannya hanya menjadi tikus dengan setelan jas di atas kursi empuk. Mereka hanya berguru namun tidak dididik menjadi pribadi yang mapan. Mereka hanya menilai ilmu sebagai sebuah rumus ϑe^(-iωt)°δ∑_μ^ρ▒τ tanpa adanya pelajaran kepribadian. Betapa hancurnya kepribadian di Indonesia hingga para pejabatnya harus ke Yunani untuk belajar kepribadian.
Pendidikan pun menjadi bahan yang mahal ketika kita membicarakannya dalam perspektif di atas. Ketika para anak yang memiliki kemampuan namun disiakan. Ketika para anak memiliki kepribadian yang tidak bisa diubah. Pendidikan adalah senjata pertama dan senjata pamungkas. Mengapa? Karena pendidikan adalah kumpulan berbagai ilmu pengetahuan, science, pseudo-science, agama, budaya, estetika, etika, hukum, dan kekuatan yang mampu mengubah sebuah batu keras hanya dengan tetesan-tetesan kecilnya. Pendidikan adalah suatu keharusan bagi anak untuk mengembangkan apa yang mereka miliki. Kemampuan dan kepribadian juga memiliki obligasi pendidikan untuk dikembangkan. Tanpanya, kemampuan dan kepribadian anak akan menjadi sesuatu yang tidak pantas, entah spontan saat itu atau kelak muncul di kemudian hari.
Pendidikan atau yang biasa oleh anak International Class Program sebut sebagai education merupakan bahasan dengan ruang lingkup yang besar. Mahasiswa UNM, Unhas, UIN, Unismuh, UIT, dan semua mahasiswa yang pernah melakukan aksi di jalanan sudah terlalu sering menyebut-nyebut pendidikan di mulutnya. Education for all yang selalu dijanjikan pemerintah menjadi boomerang bagi mereka. Education for all yang seharusnya dirasakan oleh seluruh warga Indonesia justru menjadi benda yang mahal di negeri ini. Sebuah perspektif oposisi atau perspektif mahasiswa aksi selalu menganggap bahwa pendidikan di negeri ini adalah pendidikan komersil yang mahalnya bukan main. Mulai dari BP3 tempo dulu, hingga SPP zaman ini selalu menjadi bahan aksi mahasiswa. Namun apakah ruang lingkup pendidikan yang sebegitu besarnya hanya diparameteri oleh sebuah harga? Pemikiran yang cukup dangkal ketika pejabat, mahasiswa, dan para staf pengajar menilai sebuah pendidikan dalam suatu harga. Atau peribahasa “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” sudah tidak berlaku lagi?
Anak yang merupakan tunas kehidupan negeri ini adalah satu dari sekian banyak yang harus dijamah oleh pendidikan, mulai dari yang formal hingga non-formal. Kemampuan tiap anak pun berbeda seperti biodiversity dalam pembahasan biologi. Namun korelasi antara pendidikan dan kemampuan tiap anak justru tidak kelihatan. Sebuah kewajiban pendidikan yang memanusiakan manusia semakin menjadi fatamorgana dalam konkritnya kehidupan. Anak yang haus akan ilmu yang seharusnya dididik hingga memperoleh pendidikan justru kehilangan arah. Anak yang tadinya haus ilmu menjadi anak yang alergi dan phobia terhadap ilmu. Entah siapa yang harus bertanggung jawab atas semua peliknya permasalahan ini.
Kemampuan tiap anak yang seharusnya dikembangkan justru tertidur dan tersalurkan dalam bentuk yang salah. Mungkin sudah menjadi makan siang kita, berita mengenai anak SMU yang melakukan praktikum reproduksi sebelum nikah. Atau para Chris John masa depan yang justru berantem karena soal sepele. Di sinilah seyogyanya pendidikan dipergunakan. Pendidikan adalah alat yang tidak hanya mengajarkan 1+1 kepada anak, namun juga merupakan alat pengembang kemampuan anak. Betapa sia-sianya ketika bakat alami anak justru menjadi senjata bunuh diri yang merusak diri dan bangsanya. Pendidikan bukanlah seperti lilin yang menghabisi dirinya karena cahayanya, namun seperti matahari yang tidak pernah padam demi bumi ini. Ketika anak memiliki kemampuan, maka pendidikanlah pengembangnya. Dengan berbagai cara dan formalitas, sebagai contoh mengenai anak SMU tadi. Mereka tahu melakukan kopulasi namun tidak mengerti ketika dijelaskan oleh gurunya. Bisa jadi karena cara penyampaian yang salah, atau memang ada hal yang kurang dari sistem pendidikan.
Kepribadian anak pun merupakan suatu hal yang memerlukan pendidikan. Contoh yang benar-benar nyata adalah para pejabat yang sekolahnya hingga ke luar negeri namun kepribadiannya hanya menjadi tikus dengan setelan jas di atas kursi empuk. Mereka hanya berguru namun tidak dididik menjadi pribadi yang mapan. Mereka hanya menilai ilmu sebagai sebuah rumus ϑe^(-iωt)°δ∑_μ^ρ▒τ tanpa adanya pelajaran kepribadian. Betapa hancurnya kepribadian di Indonesia hingga para pejabatnya harus ke Yunani untuk belajar kepribadian.
Pendidikan pun menjadi bahan yang mahal ketika kita membicarakannya dalam perspektif di atas. Ketika para anak yang memiliki kemampuan namun disiakan. Ketika para anak memiliki kepribadian yang tidak bisa diubah. Pendidikan adalah senjata pertama dan senjata pamungkas. Mengapa? Karena pendidikan adalah kumpulan berbagai ilmu pengetahuan, science, pseudo-science, agama, budaya, estetika, etika, hukum, dan kekuatan yang mampu mengubah sebuah batu keras hanya dengan tetesan-tetesan kecilnya. Pendidikan adalah suatu keharusan bagi anak untuk mengembangkan apa yang mereka miliki. Kemampuan dan kepribadian juga memiliki obligasi pendidikan untuk dikembangkan. Tanpanya, kemampuan dan kepribadian anak akan menjadi sesuatu yang tidak pantas, entah spontan saat itu atau kelak muncul di kemudian hari.
Aku Bukan Fiksi
Di depan sebuah pintu aku terdiam. Aku seakan tidak punya tenaga untuk membuka pintu kamarku sendiri. Akhirnya aku hanya bisa bersandar di daun pintu kamarku. Aku kemudian mencoba mengingat kembali siapa diriku sebenarnya.
Aku adalah seorang mahasiswa yang telah melalui hampir semua jalan dalam kehidupan. Aku seorang aktivis kampus, kutu buku, seorang senior yang tidak beda dengan senior lainnya. Aku mengerti akan keadaan si kutu buku yang terus tertekan dengan semua tugas-tugas perkuliahan. Aku mengerti dengan keadaan si pujangga cinta yang terus mengarungi kisah percintaannya selama kuliah. Aku aktif dalam acara tawuran yang seakan menjadi rutinitas di kampusku. Aku mengerti dengan sang penegak hak mahasiswa yang terus berteriak tak kenal lelah demi turunnya biaya perkuliahan. Bahkan aku mengerti keadaan para mahasiswa yang merelakan kehormatannya demi mereka yang tak ingin ditinggalkan oleh yang mereka sayang.
Sedikit bercerita, aku adalah seorang mahasiswa yang benar-benar senior. Usiaku sekitar 24 tahun, tidak terlalu mengherankan untuk mahasiswa yang telah menjalani studi sekitar tiga belas semester. Akhir-akhir ini terasa mencekam, kredit-kredit masih banyak yang menunggu. Entah siapa yang salah, yang pasti bukan karena aku yang bodoh.
Selama di SMA, aku adalah the big ten dari sekolah non-unggulan. Aku cukup bangga dengan hal tersebut. Bahkan saat SD hingga SMP aku terus menjadi tiga besar di sekolahku. Salah satu yang menjadi kebanggaanku adalah keaktifanku dalam lomba-lomba selama sekolah. Akulah yang paling aktif selama proses belajar-mengajar. Namun sebuah ironi di dunia pendidikan, aku meraih juara yang lebih banyak ketika SMP saat peringkatku justru menurun. Aku menjadi juara pada lomba-lomba selama SMP. Dan yang termasuk hebat adalah saat UAN, aku lulus dengan peringkat terbaik di sekolahku.
Aku terus mencoba menggali masa laluku. Kubaringkan tubuhku yang lelah dikamarku. Sebuah kamar yang kujadikan pelindung hujan dan panas selama kuliah. Sambil tertawa kecil, aku berpikir betapa hebatnya prestasiku selama SD dan SMP.
Kehidupanku berubah saat memasuki SMA, aku mulai benar-benar merasakan ironi. Aku lolos dalam olimpiade sains biologi hingga tingkat provinsi dengan poin yang menjanjikan. Itu adalah prestasi tertinggi yang pernah kuraih. Aku juga telah mencapai tiga besar lomba pidato bahasa inggris tingkat provinsi dan lomba debat tingkat provinsi. Namun kenyataannya, keberhasilan prestisius itu tidak berguna bagi nilai-nilai mata pelajaran di sekolahku. Aku akhirnya hanya bermain dalam sepuluh besar selama SMA.
Aku terus aktif dalam kegiatan OSIS selama SMA. Tidak ada satu pun rapat dan sidang yang kulewatkan. Padahal posisiku hanyalah anggota seksi, tapi aku merasa bertanggung jawab untuk terus aktif dalam organisasiku. Di sinilah aku bertemu dengan pacar pertamaku yang tidak bisa kupertahankan.
Aku tertidur dalam lamunanku. Namun setelah dua jam dalam pulau mimpi, aku terbangun oleh alarm handphone yang terus berbunyi seakan ingin mengingatkan aku tentang kuliah sore ini. Kuliah yang berat karena diadakan pada jam tidur siangku. Tapi aku harus tetap mengendarai motorku ke kampus walaupun dalam keadaan malas. Di jalan, handphone dalam kemejaku berbunyi, sepertinya sebuah pesan singkat. Aku kemudian membaca sms yang ternyata dari pacarku sambil mengendarai motor. Katanya ada yang penting yang ingin dia katakan. Aku kemudian menancap gas motorku demi gadis yang telah berpacaran denganku sejak awal kuliah itu.
Aku tiba di kampus yang mulai sepi. Dalam kelas hanya ada pacarku dan sebagian temanku yang kutu buku. Kami mulai pembicaraan kami dengan sedikit berbisik, itu yang diminta pacarku. Dia mengatakan bahwa dia sudah telat menstruasi selama tiga bulan. Dunia seakan runtuh, aku terus memintanya untuk tidak bercanda mengenai hal yang seperti itu. Kemudian dia menunjukkan tes kehamilan dengan dua garis merah kepadaku. Sepertinya aku melakukan fertilisasi saat making love dengan pacarku. Kulalui kuliah sore ini dengan perasaan yang aneh. Padahal kami melakukan ML karena rasa sayang kami. Dia memberi segalanya agar aku tidak meninggalkannya. Tapi kenapa sepertinya ada hal yang menakutkan di hadapanku saat ini.
Aku pulang dengan segera saat mata kuliah membosankan itu selesai. Tidak seperti hari-hari lainnya, kali ini aku tidak pulang dengan pacarku. Aku butuh udara yang lebih banyak, dadaku sepertinya sesak dengan kejadian sebelum mata kuliah tadi. Aku melaju kencang entah ke mana, hatiku hanya ingin pergi jauh dari masalah baru ini. Tiba-tiba motorku menabrak mobil yang berlawanan arah. Semuanya pun mulai gelap.
Aku terbangun di rumah sakit. Di sampingku kananku ada pacarku, dan teman dekatku yang selalu menemaniku memukuli orang lain. Mereka adalah batu karang yang pemberani, seorang ksatria yang tidak takut apapun. Sejenak aku sadar bahwa di samping kiriku ada teman-temanku para aktivis kampus yang selalu menemaniku berteriak kepada birokrasi akan semua kebijakan mereka. Dan ada beberapa kutu buku yang biasa menemaniku belajar. Semuanya datang menjengukku.
Aku teringat kembali akan kebengisanku sebagai senior yang memukuli dan menindas juniorku serta orang-orang yang tidak kusukai. Aku dengan mudahnya memainkan peran sebagai puncak piramida kesenioritasan. Aku juga ingat saat kami membakar gedung kampus sebagai wujud protes kami terhadap birokrasi. Aku dengan bangganya mengatasnamakan penolakan terhadap penindasan terhadap tingkah kami yang menindas infrastruktur kampus. Aku bahkan berani menungkapkan rasa sayangku lewat nafsu. Aku yang seharusnya telah lulus sebagai wisudawan terbaik justru jatuh dalam lingkaran setan yang kubuat sendiri.
Aku berpikir seandainya semua bisa terulang. Seandainya aku tidak bertingkah sebagai senior yang gila hormat, mungkin saja sekarang aku telah mendapatkan pekerjaan yang membanggakan. Aku berpikir seandainya saja aku lebih menghormati pemimpin, mungkin saja sekarang aku telah menjadi salah seorang wisudawan terbaik di universitasku. Dan andai saja aku tidak lancang mengatasnamakan cinta untuk melampiaskan nafsuku, mungkin saja orang yang kusayangi tidak akan menangisi semuanya.
Penyesalan selalu datang belakangan. Banyak teman-teman kita yang merasakan hal yang lebih buruk lagi. Mereka terjerumus dalam gaya hidup kampus yang salah. Mereka bahkan menjadi pengedar, pembunuh, dan sebagainya. Aku yang kuceritakan mungkin saja bukan fiksi. Aku bahkan sudah banyak dalam kehidupan dan semoga tidak menjadi diri kita.
Aku adalah seorang mahasiswa yang telah melalui hampir semua jalan dalam kehidupan. Aku seorang aktivis kampus, kutu buku, seorang senior yang tidak beda dengan senior lainnya. Aku mengerti akan keadaan si kutu buku yang terus tertekan dengan semua tugas-tugas perkuliahan. Aku mengerti dengan keadaan si pujangga cinta yang terus mengarungi kisah percintaannya selama kuliah. Aku aktif dalam acara tawuran yang seakan menjadi rutinitas di kampusku. Aku mengerti dengan sang penegak hak mahasiswa yang terus berteriak tak kenal lelah demi turunnya biaya perkuliahan. Bahkan aku mengerti keadaan para mahasiswa yang merelakan kehormatannya demi mereka yang tak ingin ditinggalkan oleh yang mereka sayang.
Sedikit bercerita, aku adalah seorang mahasiswa yang benar-benar senior. Usiaku sekitar 24 tahun, tidak terlalu mengherankan untuk mahasiswa yang telah menjalani studi sekitar tiga belas semester. Akhir-akhir ini terasa mencekam, kredit-kredit masih banyak yang menunggu. Entah siapa yang salah, yang pasti bukan karena aku yang bodoh.
Selama di SMA, aku adalah the big ten dari sekolah non-unggulan. Aku cukup bangga dengan hal tersebut. Bahkan saat SD hingga SMP aku terus menjadi tiga besar di sekolahku. Salah satu yang menjadi kebanggaanku adalah keaktifanku dalam lomba-lomba selama sekolah. Akulah yang paling aktif selama proses belajar-mengajar. Namun sebuah ironi di dunia pendidikan, aku meraih juara yang lebih banyak ketika SMP saat peringkatku justru menurun. Aku menjadi juara pada lomba-lomba selama SMP. Dan yang termasuk hebat adalah saat UAN, aku lulus dengan peringkat terbaik di sekolahku.
Aku terus mencoba menggali masa laluku. Kubaringkan tubuhku yang lelah dikamarku. Sebuah kamar yang kujadikan pelindung hujan dan panas selama kuliah. Sambil tertawa kecil, aku berpikir betapa hebatnya prestasiku selama SD dan SMP.
Kehidupanku berubah saat memasuki SMA, aku mulai benar-benar merasakan ironi. Aku lolos dalam olimpiade sains biologi hingga tingkat provinsi dengan poin yang menjanjikan. Itu adalah prestasi tertinggi yang pernah kuraih. Aku juga telah mencapai tiga besar lomba pidato bahasa inggris tingkat provinsi dan lomba debat tingkat provinsi. Namun kenyataannya, keberhasilan prestisius itu tidak berguna bagi nilai-nilai mata pelajaran di sekolahku. Aku akhirnya hanya bermain dalam sepuluh besar selama SMA.
Aku terus aktif dalam kegiatan OSIS selama SMA. Tidak ada satu pun rapat dan sidang yang kulewatkan. Padahal posisiku hanyalah anggota seksi, tapi aku merasa bertanggung jawab untuk terus aktif dalam organisasiku. Di sinilah aku bertemu dengan pacar pertamaku yang tidak bisa kupertahankan.
Aku tertidur dalam lamunanku. Namun setelah dua jam dalam pulau mimpi, aku terbangun oleh alarm handphone yang terus berbunyi seakan ingin mengingatkan aku tentang kuliah sore ini. Kuliah yang berat karena diadakan pada jam tidur siangku. Tapi aku harus tetap mengendarai motorku ke kampus walaupun dalam keadaan malas. Di jalan, handphone dalam kemejaku berbunyi, sepertinya sebuah pesan singkat. Aku kemudian membaca sms yang ternyata dari pacarku sambil mengendarai motor. Katanya ada yang penting yang ingin dia katakan. Aku kemudian menancap gas motorku demi gadis yang telah berpacaran denganku sejak awal kuliah itu.
Aku tiba di kampus yang mulai sepi. Dalam kelas hanya ada pacarku dan sebagian temanku yang kutu buku. Kami mulai pembicaraan kami dengan sedikit berbisik, itu yang diminta pacarku. Dia mengatakan bahwa dia sudah telat menstruasi selama tiga bulan. Dunia seakan runtuh, aku terus memintanya untuk tidak bercanda mengenai hal yang seperti itu. Kemudian dia menunjukkan tes kehamilan dengan dua garis merah kepadaku. Sepertinya aku melakukan fertilisasi saat making love dengan pacarku. Kulalui kuliah sore ini dengan perasaan yang aneh. Padahal kami melakukan ML karena rasa sayang kami. Dia memberi segalanya agar aku tidak meninggalkannya. Tapi kenapa sepertinya ada hal yang menakutkan di hadapanku saat ini.
Aku pulang dengan segera saat mata kuliah membosankan itu selesai. Tidak seperti hari-hari lainnya, kali ini aku tidak pulang dengan pacarku. Aku butuh udara yang lebih banyak, dadaku sepertinya sesak dengan kejadian sebelum mata kuliah tadi. Aku melaju kencang entah ke mana, hatiku hanya ingin pergi jauh dari masalah baru ini. Tiba-tiba motorku menabrak mobil yang berlawanan arah. Semuanya pun mulai gelap.
Aku terbangun di rumah sakit. Di sampingku kananku ada pacarku, dan teman dekatku yang selalu menemaniku memukuli orang lain. Mereka adalah batu karang yang pemberani, seorang ksatria yang tidak takut apapun. Sejenak aku sadar bahwa di samping kiriku ada teman-temanku para aktivis kampus yang selalu menemaniku berteriak kepada birokrasi akan semua kebijakan mereka. Dan ada beberapa kutu buku yang biasa menemaniku belajar. Semuanya datang menjengukku.
Aku teringat kembali akan kebengisanku sebagai senior yang memukuli dan menindas juniorku serta orang-orang yang tidak kusukai. Aku dengan mudahnya memainkan peran sebagai puncak piramida kesenioritasan. Aku juga ingat saat kami membakar gedung kampus sebagai wujud protes kami terhadap birokrasi. Aku dengan bangganya mengatasnamakan penolakan terhadap penindasan terhadap tingkah kami yang menindas infrastruktur kampus. Aku bahkan berani menungkapkan rasa sayangku lewat nafsu. Aku yang seharusnya telah lulus sebagai wisudawan terbaik justru jatuh dalam lingkaran setan yang kubuat sendiri.
Aku berpikir seandainya semua bisa terulang. Seandainya aku tidak bertingkah sebagai senior yang gila hormat, mungkin saja sekarang aku telah mendapatkan pekerjaan yang membanggakan. Aku berpikir seandainya saja aku lebih menghormati pemimpin, mungkin saja sekarang aku telah menjadi salah seorang wisudawan terbaik di universitasku. Dan andai saja aku tidak lancang mengatasnamakan cinta untuk melampiaskan nafsuku, mungkin saja orang yang kusayangi tidak akan menangisi semuanya.
Penyesalan selalu datang belakangan. Banyak teman-teman kita yang merasakan hal yang lebih buruk lagi. Mereka terjerumus dalam gaya hidup kampus yang salah. Mereka bahkan menjadi pengedar, pembunuh, dan sebagainya. Aku yang kuceritakan mungkin saja bukan fiksi. Aku bahkan sudah banyak dalam kehidupan dan semoga tidak menjadi diri kita.
Kamis, 03 Februari 2011
KISAH NYATA: Anak dan Ibu
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan.
Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang.
Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.
Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil.
Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata:
"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus.
Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak.
Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis.
Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Mungkin cerita di atas hanya dongeng............
Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas.
Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll.
Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.
Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula.
Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, di saat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa.
Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.
Sumber: Bagi Info
Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang.
Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.
Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil.
Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata:
"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus.
Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak.
Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis.
Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Mungkin cerita di atas hanya dongeng............
Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas.
Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll.
Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.
Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula.
Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, di saat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa.
Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.
Sumber: Bagi Info
Senin, 13 Desember 2010
CURRICULUM (KURIKULUM)
This posting I wrote after the curriculum class in State University of Makassar.
Bagaimana kita melaksanakan sesuatu dengan baik jika kita melihat sesuatu itu dengan perspektif rendah?
UAN kok jadi permasalahan dalam diskusi tentang KTSP? KTSP kok jadi permasalahan ketika dihadapkan dengan prinsip KTSP itu sendiri? Hal ini disebabkan karena kita semua melihat KTSP itu dari perspektif yang apatis. Cobalah kita melihat KTSP sebagai sesuatu yang baik! Kurikulum-kurikulum sebelumnya telah disempurnakan sebaik mungkin sehingga menghasilkan KTSP. Yang menjadi masalah adalah Human Error itu sendiri. Manusia yang menjadi pelaksana kurikulum justru menjadi problem dalam sistem ini. Sistem organ saja masih bisa rusak, padahal telah dibuat-Nya dengan sempurna. Apalagi dengan sistem kurikulum yang hanya buatan manusia, pasti penuh dengan cela dan celah.
Sekarang yang menjadi pokok permasalahan kita adalah perspektif kita mengenai kurikulum. Kok siswa SMA justru memperhatikan nilai terendah untuk lulus di UAN? Kenapa tidak justru mengatakan "berapa sih nilai tertinggi?" biar ada motivasi lolos, bukan motivasi jatuh atau yang penting lolos.
Walaupun begitu, dengan pendekatan Top Down atau pendekatan Grass Root, mestinya penanggung jawab, pelaksana, serta peserta kurikulum mampu mengembangkan kurikulum menjadi lebih baik. Jangan mau kalah dari Jepang atau Amerika Serikat!
Sorry
عذرا
scusa
申し訳ありません
죄송합니다
извините
désolé
desculpe
抱歉
sentimos
συγνώμη
kalau ada yang salah!!!
Bagaimana kita melaksanakan sesuatu dengan baik jika kita melihat sesuatu itu dengan perspektif rendah?
UAN kok jadi permasalahan dalam diskusi tentang KTSP? KTSP kok jadi permasalahan ketika dihadapkan dengan prinsip KTSP itu sendiri? Hal ini disebabkan karena kita semua melihat KTSP itu dari perspektif yang apatis. Cobalah kita melihat KTSP sebagai sesuatu yang baik! Kurikulum-kurikulum sebelumnya telah disempurnakan sebaik mungkin sehingga menghasilkan KTSP. Yang menjadi masalah adalah Human Error itu sendiri. Manusia yang menjadi pelaksana kurikulum justru menjadi problem dalam sistem ini. Sistem organ saja masih bisa rusak, padahal telah dibuat-Nya dengan sempurna. Apalagi dengan sistem kurikulum yang hanya buatan manusia, pasti penuh dengan cela dan celah.
Sekarang yang menjadi pokok permasalahan kita adalah perspektif kita mengenai kurikulum. Kok siswa SMA justru memperhatikan nilai terendah untuk lulus di UAN? Kenapa tidak justru mengatakan "berapa sih nilai tertinggi?" biar ada motivasi lolos, bukan motivasi jatuh atau yang penting lolos.
Walaupun begitu, dengan pendekatan Top Down atau pendekatan Grass Root, mestinya penanggung jawab, pelaksana, serta peserta kurikulum mampu mengembangkan kurikulum menjadi lebih baik. Jangan mau kalah dari Jepang atau Amerika Serikat!
Sorry
عذرا
scusa
申し訳ありません
죄송합니다
извините
désolé
desculpe
抱歉
sentimos
συγνώμη
kalau ada yang salah!!!
Kamis, 09 Desember 2010
Saraf
Yah,kita lah organisme itU!
Yg bAngGa dgn serebrum,mesenseFaloN,dan serebelum.
Menatap hari dgn sel koNus.
Menerawang malam dgn sel bAsilus.
KokLea kita tak mau kalah dgn menangkap triakan alam.
Sel olfaktori dan papila Kita menangkap stimulus kimia.
Dan jangan tanyakan tentang paCcini,meisSner,rufFini,dan krausSe pada kulit kita.
TUngGu,fEnOtipe kita trkenal lemah.
Adaptasi kita lemah.
Tapi otak kita kuat.
Dgn genOm,kita wariskan kpd generasi kita,
tentang thariq dan cortez,
tentang aristoteles dan plato,
tentang da vinci dan michaelangelo,
tentang ibnu sina dan al khawarizmi,
tentang bill gates,rudy hartoNo,nObunaga,opRah winfrey,galileo galilei,jusuf kalLa,mushashI,gengHis kahn,yesus,karl marx,aBraham lincoln,confucius,umar bin khatTaB,IsaAc newtoN,gajah mada,MuhamMad bin aBdulLah,dan tokoh lain yg smpat terlintas dbenak kita.
Mgkin teori generatio sPoNtanea sudah kita tolak.
Katanya krn biogenesis lebiH scientific!
Tapi dEtik saat kita membAcA skarang,
generatio sPoNtanea kembALi.
JuTaAn sel otak kita mencobA mengIngat info hIdup kita...
Skarang cobA ingat!
LEVER mampu menetralKan raCun!
HEART mampu memberi nuTrisi bAgI otak!
Tapi apa QALBU kita telah netral dan pnuh nuTrisi?
Ileum tetangGa kita mengangGur!
Eksokrin mereka lebiH bAnyak drPd makanan mereka!
KwashIorkor sudah biasa.
Alveolus mereka jd gelembung biasa!
Volume bensin kita lbh bnyk drPd volume udara suplementer mereka tiap brnafas.
Jejenum mereka akhirnya kosong.
Eritrosit mereka trdiam.
Brainstorm mereka menjadi brainDry!
Dan heart,lever,serta qalbu kita hanya akan jadi kata.
The truTh is in yourS!
MemOry pc kita penuh game.
MemOry laptop penuh file.
MemOry handphoNe penuh foto.
MemOry otak pusing memikir memOry pc,laptop,dan handphoNe kita.
Mau diapakan smua paCcini,rufFini,meisSner,dan krause di batang kale?
UntUk peka trhdap panas?DingIn?Tekanan?SntUhan?
Jd dmana saraf PEDULI kita?
Skrang apa saraf itU muncul scAra generatio sPoNtanea?
Now,and never say toMorRow!
Saraf itU lahIrkanlah pada hIpofisis!
Alirkan beserta eritrosit!
Dicerna lambung!
Diserap usus!
Nafaskanlah dia dgn paru-paru!
Rasakan nikmatnya pada papilla lidah!
Dan buat ATP kita mengGerakKan otot!
Make a change.
Seize the day.
LahIrkan saraf PEDULI!
Yg bAngGa dgn serebrum,mesenseFaloN,dan serebelum.
Menatap hari dgn sel koNus.
Menerawang malam dgn sel bAsilus.
KokLea kita tak mau kalah dgn menangkap triakan alam.
Sel olfaktori dan papila Kita menangkap stimulus kimia.
Dan jangan tanyakan tentang paCcini,meisSner,rufFini,dan krausSe pada kulit kita.
TUngGu,fEnOtipe kita trkenal lemah.
Adaptasi kita lemah.
Tapi otak kita kuat.
Dgn genOm,kita wariskan kpd generasi kita,
tentang thariq dan cortez,
tentang aristoteles dan plato,
tentang da vinci dan michaelangelo,
tentang ibnu sina dan al khawarizmi,
tentang bill gates,rudy hartoNo,nObunaga,opRah winfrey,galileo galilei,jusuf kalLa,mushashI,gengHis kahn,yesus,karl marx,aBraham lincoln,confucius,umar bin khatTaB,IsaAc newtoN,gajah mada,MuhamMad bin aBdulLah,dan tokoh lain yg smpat terlintas dbenak kita.
Mgkin teori generatio sPoNtanea sudah kita tolak.
Katanya krn biogenesis lebiH scientific!
Tapi dEtik saat kita membAcA skarang,
generatio sPoNtanea kembALi.
JuTaAn sel otak kita mencobA mengIngat info hIdup kita...
Skarang cobA ingat!
LEVER mampu menetralKan raCun!
HEART mampu memberi nuTrisi bAgI otak!
Tapi apa QALBU kita telah netral dan pnuh nuTrisi?
Ileum tetangGa kita mengangGur!
Eksokrin mereka lebiH bAnyak drPd makanan mereka!
KwashIorkor sudah biasa.
Alveolus mereka jd gelembung biasa!
Volume bensin kita lbh bnyk drPd volume udara suplementer mereka tiap brnafas.
Jejenum mereka akhirnya kosong.
Eritrosit mereka trdiam.
Brainstorm mereka menjadi brainDry!
Dan heart,lever,serta qalbu kita hanya akan jadi kata.
The truTh is in yourS!
MemOry pc kita penuh game.
MemOry laptop penuh file.
MemOry handphoNe penuh foto.
MemOry otak pusing memikir memOry pc,laptop,dan handphoNe kita.
Mau diapakan smua paCcini,rufFini,meisSner,dan krause di batang kale?
UntUk peka trhdap panas?DingIn?Tekanan?SntUhan?
Jd dmana saraf PEDULI kita?
Skrang apa saraf itU muncul scAra generatio sPoNtanea?
Now,and never say toMorRow!
Saraf itU lahIrkanlah pada hIpofisis!
Alirkan beserta eritrosit!
Dicerna lambung!
Diserap usus!
Nafaskanlah dia dgn paru-paru!
Rasakan nikmatnya pada papilla lidah!
Dan buat ATP kita mengGerakKan otot!
Make a change.
Seize the day.
LahIrkan saraf PEDULI!
Langganan:
Postingan (Atom)
