Selasa, 22 Februari 2011

KEPRIBADIAN (sulappa' appa')

Di Sulawesi, terdapat filosofi Sulappa' Appa' atau segi empat.
Kepribadian jika dilihat dari sulappa' appa' bisa kita nilai dari urutan lahir kita.
Menurut Sulappa'Appa' (Bugis: Segi empat)

Anak Pertama (TANAH)
1. Egois
2. Paling senang memerintah
3. Penyayang kalau punya mau
4. Sulit menjaga uang
5. Rangking bagus
6. Kepemimpinan yang baik
7. Perfeksionis
8. Bertanggung jawab
9. Menjadi ter- (entah terbaik atau justru terburuk)
10. Toleransi

Anak kedua (AIR)
1. Penurut
2. Tidak banyak bicara
3. Tidak rewel soal uang
4. Mudah bergaul
5. Pilih-pilih teman
6. Mampu menyesuaikan diri
7. Pendiam tapi berisi
8. Kadang cerewet

Anak ketiga (API)
1. Membuat masalah
2. Pemberani
3. Pengganggu
4. Rese'
5. Semangat
6. Langsung diam jika punya salah
7. Pemarah
8. Boros
9. Pandai membuka komunikasi

Anak keempat (ANGIN)
1. Manja
2. Lalot
3. Terlindungi, sehingga selalu merasa aman
4. Rese'
5. Rajin menabung (kadang pelit)
6. Mau-maunya (berhembus tanpa arah)
7. Marah tanpa alasan
8. Suka ngambek


Sumber: Dg. Roni (UKM Seni UNM)

Rabu, 09 Februari 2011

PEKERJA PANGGUNG dan PEMAIN PANGGUNG

saya seorang pemain panggung, butuh panggung yang perfect untuk penampilan saya yang perfect.

saya seorang pekerja panggung, memberi media terbaik bagi penampilan yang terbaik

saya tidak perlu jadi pekerja panggung. buat apa bekerja di backstage? tidak ada ketenaran mengikutinya


Banyak orang yang menjauhi pekerjaan pekerja panggung karena dianggap kurang tenar dan makan banyak tenaga. Padahal sebenarnya terdapat banyak kepuasan di dalamnya.

Saya belum terlalu lama menjadi pemain panggung... dan belum bisa dianggap pro... namun sudah ada pengalaman yang saya dapatkan di dalamnya.
begitupun ketika saya menjadi backstage crew...
sehingga saya mendapatkan sedikit perbedaan dalam dua bidang panggung tersebut...


1. Jantung kru panggung berdetak cepat karena bekerja, sangat jarang karena nervous... tapi jantung pemain panggung berdetak cepat karena nervous.
2. Tuntutan kru panggung adalah memberi media yang terbaik bagi pemain. Tuntutan pemain panggung adalah memberi penampilan terbaik bagi penonton.
3. Kepuasan pemain panggung adalah setelah penampilan mereka tampil dengan baik. Kepuasan kru panggung adalah saat seluruh penampilan berjalan lancar.

Kamis, 03 Februari 2011

KISAH NYATA: Anak dan Ibu

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan.
Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang.
Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.
Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil.
Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata:
"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus.
Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak.
Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis.
Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita di atas hanya dongeng............

Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas.
Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll.
Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.
Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula.
Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, di saat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa.
Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Sumber: Bagi Info